Fajar baru saja menyingsing ketika seorang mata-mata bergegas masuk ke aula utama dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Berita buruk! Sekte Api Langit telah runtuh!" serunya dengan suara gemetar.

Arkha dan Kael yang tengah sarapan segera menghentikan gerakan mereka. Lynx, yang sedang duduk di sudut ruangan, menajamkan pandangannya.

Saat itu, dia masih membayangkan kejadian hari sebelumnya, ketika dia selesai membuat formasi untuk pakaian khususnya. Dia merasa geli karena merasa menjadi seperti salah satu tokoh di film kesukaannya. Dia juga berpikir apa yang ingin dilakukannya kelak dengan kekuatan ini. Selain itu dia juga memikirkan tentang nasib Darek, dia tidak menduga jika salah satu rekannya tewas di dunia ini tanpa mengetahui seperti apa dunia ini. Namun Lynx bersyukur, Narendra memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi teman-temannya.

Setelah membuat formasi ilusi untuk pakaiannya, Lynx bertanya ulang ke Narendra mengenai asal kekuatannya. Saat itu karena bersedih dengan Darek, mereka membahas hal lain. Selain itu juga mereka harus segera melapor kepada tuan Zhen Huan mengenai benda yang mereka bawa sehingga cerita Narendra terputus.

"Pria tua yang terluka parah, setelah mengetahui aku berusaha menolongnya dan melihat lawannya membunuh Darek, dia mendapatkan kesempatan menggunakan jurus terkuatnya untuk melukai dan mengusir penyerangnya. Setelah itu, pria tersebut mentransfer sebagian kekuatannya kepadaku sebagai tanda terimakasih." Itu penjelasan Narendra ketika Lynx menanyakannya kembali.

Saat sedang berpikir mengenai hal tersebutlah, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara. Lynx segera bangkit dan menuju mata-mata tersebut.

"Apa maksudmu?" tanya Kael, meletakkan sumpitnya.

Mata-mata itu menelan ludah sebelum melanjutkan, "Ketua sekte mereka… terbunuh oleh seseorang yang misterius! Para saksi mengatakan orang itu mengenakan baju aneh seperti logam, dengan penutup kepala dan kaca hitam yang menutupi wajahnya!"

Lynx langsung tertegun. Baju tempur seperti logam? Penutup kepala dengan kaca hitam? Itu terdengar sangat mirip dengan deskripsi baju tempurnya.

"Tunggu, kau yakin ketua sekte terbunuh?" Lynx bertanya dengan suara lebih rendah.

Mata-mata itu mengangguk cepat. "Benar! Ketua sekte mereka ditemukan terbunuh. Informasi yang kami dapatkan, jasad ketua sekte dalam keadan terpisah dengan kepalanya dan mereka saat ini sedang melakukan upacara ritual untuk menghormatinya!"

Lynx membeku. Tapi itu tidak masuk akal… Dia sendiri yang menyelamatkan ketua Sekte Api Langit beserta tetua Xie beberapa hari yang lalu. Jika mereka benar-benar tewas, maka ada dua kemungkinan, entah mereka telah dibunuh setelah dia menyelamatkan mereka, atau ada pihak lain yang menggunakan penampilan mirip dirinya untuk mengacaukan situasi.

Lynx mengepalkan tangan. "Kita harus menyelidiki ini."

Tak lama setelah berita itu tersebar, Lynx mengumpulkan rekan-rekannya untuk rapat singkat.

"Xiao Ling, apa kamu bisa menerka apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah kemarin kamu menceritakan sudah menolong mereka, namun bagaimana ada berita tentang kematian ketua sekte mereka?" Zhen Huan yang merasa agak kaku dengan nama Lynx terkadang masih memanggilnya Xiao Ling, sekaligus membiasakan dirinya jika di luar nanti. Dia memandang Lynx, karena dari keterangan yang diberikan anggotanya, dia bisa memperkirakan orang misterius yang dimaksud adalah pemuda didepannya.

"Aku tidak mengetahuinya, tetapi situasi ini tidak masuk akal," kata Lynx, matanya berkilat tajam. "Aku sendiri yang menyelamatkan ketua Sekte Api Langit dan seorang tetua mereka. Jika mereka sekarang dinyatakan tewas, berarti ada sesuatu yang salah."

"Apakah mungkin ada orang lain yang menggunakan penyamaran menyerupai dirimu?" tanya Arkha curiga.

"Atau jebakan?" Kael menambahkan.

Lynx mengangguk. "Aku juga awalnya berpikir ada seseorang yang menyamar sepertiku, tetapi setelah kuingat lagi, bukankah pakaian ini baru sekali aku pakai. Jadi sangat sulit orang menirunya, kecuali jika dia pernah melihat saat Kael memakainya. "

Kael segera mengelak,"Sejak Lala membuatkannya, aku pernah memakainya sekali tapi sudah sangat lama, karena aku merasa terlalu norak didunia ini menggunakan pakaian itu." mendadak wajah kael memucat dan merasa agak memerah karena secara tidak langsung dia menyindir Lala dan Lynx.

Lala mencubit pinggang kiri Kael dan memelototinya dengan tajam, namun sebelah kanannya juga terasa cubitan, Kael beralih untuk melihat yang mencubit dan melihat Jelita yang mencubitnya.

"Awas bilang kepala suku norak lagi." Ancam Jelita.

"Lala, Jelita, Sudahlah. Kael tidak salah jika dia yang menggunakannya, tetapi pakaian itu justru sangat membantuku." Jawab Lynx sambil memandang mereka bertiga.

Lala dan Jelita menundukkan kepala, mereka secara reflek mencubit Kael tanpa memperhatikan situasi mereka sedang tegang saat ini. Lala dan Jelita tidak terima jika Kael menganggap pakaian tersebut norak karena tidak ingin Lynx merasa malu memakainya.

Kael menyilangkan tangan. "Lalu apa rencanamu?"

"Mengenai masalah ini, pasti ada sesuati dibaliknya. Itu sebabnya aku tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja. Aku akan pergi ke sekte Api Langit bersama Lala." Lynx melirik gadis itu, "Aku butuh seseorang yang bisa bergerak bebas tanpa menimbulkan kecurigaan dan cukup mengenal dunia ini serta bisa aku percaya, dan Lala adalah pilihan terbaik."

Lala langsung tersenyum senang, namun dia berusaha menutupi ekpresinya karena tidak ingin terlihat yang lainnya. Dia bahagia akhirnya bisa berjalan berdua bersama pria yang disukainya setelah sekian lama berpisah.

Arkha mengerutkan kening. "Kepala suku, jangan bertindak gegabah. Ini bisa jadi jebakan yang dipasang untukmu."

Lynx tersenyum tipis. "Tenang saja, mereka tidak mengenali siapa orang dibalik pakaian tersebut. Aku akan selalu waspada."

Karim menganggukkan kepala dan menyetujui rencana Lynx. "Memang Lala yang paling tepat, selain dia seorang wanita sehingga tidak terlalu dicurigai, dia juga sudah terbiasa mencari informasi dan paling pintar diantara kita."

"Jelita, kamu tidak apakan kami tinggal." Tanya Lala sambil memegang tangan Jelita. Bagaimanapun dia merasa iba dengan saingan cintanya tersebut.

Jelita menganggukan kepalanya,"jangan khawatir, mereka pasti akan menjagaku. Kapan kalian berangkat?" tanya Jelita dengan nada khawatir. Dia tidak ingin Lynx dan Lala mendapatkan masalah.

"Jika kita berangkat sekarang apakah kamu siap Lala?" tanya Lynx.

"Tentu saja, didunia ini semua peralatan bisa kita simpan di kantung penyimpanan jadi praktis bisa selalu bawa kemana-mana barang kita. Bagaimana Tuan Zhen ? Apakah aku boleh meninggalkan tugasku disini?" Jawab Lala kepada Zhen Huan.

"Tenang saja, urusan disini nanti bisa kuatur agar bisa dilakukan orang lain." Zhen Huan lalu mendekati Lynx dan mengeluarkan sebuat wadah batu giok dari cincin penyimpanannya. Saat ia membukanya, aroma kuat menyeruak, memenuhi ruangan dengan kesegaran yang menenangkan.

"Bukankah kamu membutuhkannya. Ini adalah Rumput Jiwa Seribu Tahun," kata Tuan Zhen sambil menyerahkan benda itu kepada Lynx. "Gunakan ini untuk mengobati Ling Mei. Aku tahu kau peduli padanya, jadi jangan sia-siakan."

Lynx tidak menduga tanaman yang dia perlukan kini ada didepannya. Awalnya dia berencana mengelilingi benua ini untuk mendapatkan tanaman yang diperlukan. Dia menatap tanaman itu sejenak, lalu mengangguk hormat. "Terima kasih. Aku akan memastikan dia sembuh."

Tuan Zhen tersenyum tipis. "Dan aku harap kau kembali dengan selamat. Jangan lupakan janjimu sebelumnya."

"Tentu tuan Zhen, aku tidak akan melupakannya." Jawab Lynx sambil menyimpan tanaman tersebut.

Setelah memastikan segalanya siap, Lynx dan Lala meninggalkan tempat itu.

Awalnya, mereka hanya berlari dengan kecepatan tinggi, Lynx menyesuaikan kecepatan berlari Lala. Namun setelah beberapa jam perjalanan, Lala mendadak menoleh dan berkata, "Hei, Lynx… Bisakah kamu menunjukkan kemampuanmu kepadaku? Aku tidak tahu seberapa kuat kamu sekarang. Aku ingin kamu bisa menggendongku dan membawaku berlari. Bisakan?" Wajah Lala agak memerah setelah dia menyadari kata-kata yang sudah diucapkannya.

Lynx meliriknya sekilas. "Apa kamu yakin mau aku menggendongmu? Jangan bilang aku mencari kesempatan ya."

Lala menyipitkan mata. "Apa kamu berani berbuat macam-macam kepadaku? Aku akan memberi tahu Leena jika kamu berani melakukannya. Ayolah, aku ingin melihat kecepatan aslimu. Selain itu juga agar kita bisa lebih cepat sampai."

Lynx diam sejenak. "Baiklah kalau memang itu maumu. Pastikan kamu menutup matamu ya."

Lala tersenyum lebar. "Ok sipp!"

